Tanya Via Whatsapp

Plang Arah Wisata: Panduan untuk Kawasan Wisata

Plang Arah Wisata

Plang arah wisata bukan sekadar papan yang diberi nama lokasi dan tanda panah. Dalam sebuah destinasi, plang merupakan bagian dari sistem navigasi yang membantu pengunjung memahami posisi, menentukan arah, dan menemukan fasilitas atau titik tujuan tanpa harus terus bertanya kepada petugas.

Kebutuhannya akan semakin penting ketika sebuah kawasan memiliki banyak jalur, persimpangan, fasilitas, atau objek yang tersebar. Area parkir, loket, toilet, pusat informasi, restoran, titik berkumpul, wahana, spot wisata, hingga jalur keluar perlu dihubungkan melalui informasi yang konsisten.

Karena itu, perencanaan plang arah wisata sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan “desainnya mau seperti apa?”, melainkan dari:

siapa yang menggunakan, ke mana pengunjung perlu diarahkan, di titik mana keputusan arah dibuat, dan informasi apa yang harus terlihat pada titik tersebut.

Apa yang Membedakan Plang Arah Wisata?

Apa yang Membedakan Plang Arah Wisata?

Secara fungsi, plang arah wisata masih termasuk bagian dari sistem penunjuk arah. Namun kebutuhan kawasan wisata biasanya lebih kompleks dibanding sekadar menunjukkan satu nama jalan atau satu tujuan.

Sebuah destinasi dapat memiliki beberapa kelompok informasi sekaligus, misalnya:

  • arah menuju objek atau wahana;
  • lokasi fasilitas umum;
  • jalur masuk dan keluar;
  • area parkir;
  • pusat informasi;
  • restoran atau area kuliner;
  • toilet dan tempat ibadah;
  • titik berkumpul;
  • fasilitas administrasi;
  • area yang memiliki pembatasan akses.

Karena itu, satu papan tidak selalu cukup.

Pada kawasan yang lebih luas, pengelola biasanya perlu mempertimbangkan sistem wayfinding, yaitu rangkaian penunjuk yang ditempatkan secara konsisten dari titik kedatangan hingga titik tujuan.

Artikel mengenai plang jalan penunjuk arah dapat digunakan untuk memahami fungsi penunjuk arah secara umum. Sementara pembahasan di sini difokuskan pada bagaimana kebutuhan tersebut diterapkan secara khusus pada destinasi dan kawasan wisata.

Mulai dari Alur Pergerakan Pengunjung, Bukan dari Desain Papan

Salah satu kesalahan dalam merencanakan signage adalah menentukan bentuk papan terlebih dahulu tanpa memetakan perjalanan pengunjung.

Padahal kebutuhan informasi di gerbang masuk akan berbeda dengan kebutuhan informasi pada persimpangan jalur di dalam kawasan.

Sebelum menentukan jumlah atau desain plang, petakan terlebih dahulu beberapa hal berikut.

1. Titik Kedatangan Pengunjung

Identifikasi dari mana pengunjung biasanya memasuki kawasan, misalnya:

  • gerbang utama;
  • area parkir;
  • drop-off;
  • halte atau titik transportasi;
  • pintu masuk pejalan kaki.

Pada titik ini pengunjung biasanya membutuhkan gambaran awal mengenai arah fasilitas atau destinasi utama.

2. Titik Pengambilan Keputusan

Tidak semua lokasi membutuhkan plang.

Prioritas justru berada pada titik ketika pengunjung harus memilih antara dua atau lebih arah, seperti:

  • persimpangan jalur;
  • percabangan pedestrian;
  • pertemuan beberapa zona;
  • akses menuju fasilitas berbeda;
  • transisi antara area parkir dan kawasan utama.

Plang yang dipasang setelah pengunjung melewati persimpangan sering kali terlambat memberikan informasi.

3. Titik Tujuan

Tentukan daftar tujuan yang memang perlu muncul dalam sistem navigasi.

Jangan memasukkan semua lokasi ke setiap papan.

Semakin banyak informasi yang ditampilkan sekaligus, semakin besar risiko pengunjung membutuhkan waktu lebih lama untuk membacanya.

Prioritaskan tujuan berdasarkan kebutuhan di titik tersebut.

Tentukan Pengguna: Pejalan Kaki atau Kendaraan

Plang yang dibaca oleh pejalan kaki memiliki kebutuhan berbeda dengan papan yang harus terbaca oleh pengguna kendaraan.

Pengunjung yang berjalan kaki memiliki waktu lebih panjang untuk melihat informasi. Papan dapat berisi beberapa tujuan selama hierarkinya tetap jelas.

Sebaliknya, pengendara memiliki waktu lebih singkat untuk membaca dan mengambil keputusan.

Karena itu, sebelum menentukan dimensi papan, ukuran huruf, jumlah informasi atau posisi pemasangan, tentukan terlebih dahulu:

KondisiImplikasi terhadap desain
Jalur pedestrianInformasi dapat lebih detail dan dibaca dari jarak relatif dekat
Jalur kendaraanInformasi perlu lebih ringkas dan mudah dikenali
PersimpanganArah dan tujuan utama harus cepat ditemukan
Area berkumpulDapat menggunakan sistem informasi yang lebih lengkap
Kawasan luasMembutuhkan konsistensi antarplang
Jalur campuranPerlu mempertimbangkan kebutuhan pedestrian dan kendaraan secara terpisah

Dengan pendekatan ini, ukuran papan tidak ditentukan berdasarkan satu angka “ideal” yang digunakan untuk semua lokasi.

Dimensi, ketinggian, dan konfigurasi struktur sebaiknya menyesuaikan jarak baca, posisi pengguna, lingkungan pemasangan, jumlah informasi, dan kondisi lokasi.

Susun Hierarki Informasi yang Mudah Dipahami

Plang arah tidak perlu menjelaskan banyak hal. Tugas utamanya adalah membantu seseorang mengambil keputusan dengan cepat.

Elemen yang dapat diprioritaskan antara lain:

Nama tujuan
Menjelaskan lokasi yang ingin dicapai pengunjung.

Arah atau panah
Harus mudah ditemukan dan konsisten penggunaannya.

Ikon fasilitas
Dapat membantu mengenali fasilitas seperti parkir, toilet, pusat informasi atau area tertentu.

Informasi tambahan
Digunakan hanya jika memang membantu pengambilan keputusan, misalnya zona atau kode lokasi.

Jika suatu destinasi menerima wisatawan dari berbagai negara, penggunaan bahasa kedua atau simbol yang mudah dikenali dapat dipertimbangkan sesuai profil pengunjung.

Prinsip utamanya sederhana:

pengunjung seharusnya dapat memahami arah tanpa harus membaca paragraf panjang.

Jangan Membebani Satu Plang dengan Terlalu Banyak Tujuan

Jangan Membebani Satu Plang dengan Terlalu Banyak Tujuan

Semakin luas suatu destinasi, semakin besar keinginan untuk memasukkan semua fasilitas ke dalam satu papan.

Pendekatan ini justru dapat membuat navigasi lebih sulit.

Sebagai contoh, pada gerbang utama mungkin cukup ditampilkan:

  • area parkir;
  • loket;
  • pusat informasi;
  • objek utama.

Setelah pengunjung memasuki kawasan, papan berikutnya dapat mengarahkan ke fasilitas yang lebih spesifik.

Sistem seperti ini membentuk progressive wayfinding: informasi diberikan sesuai kebutuhan pada setiap tahap perjalanan.

Hasilnya lebih terstruktur dibanding membuat satu plang berisi seluruh daftar lokasi.

Material dan Finishing Harus Mengikuti Lingkungan Pemasangan

Material tidak sebaiknya dipilih hanya berdasarkan tampilan.

Dalam kebutuhan luar ruang, pengelola perlu mempertimbangkan kondisi lokasi seperti:

  • paparan hujan dan matahari;
  • kelembapan;
  • lingkungan pantai atau area dengan potensi korosi;
  • potensi benturan;
  • tingkat interaksi pengunjung;
  • kebutuhan maintenance;
  • bentuk dan ukuran struktur.

Beberapa material yang dapat digunakan pada sistem signage antara lain baja, aluminium, plat logam, maupun kombinasi material lain sesuai rancangan.

Namun tidak tepat menyatakan bahwa satu jenis material selalu “antikarat” atau selalu menjadi pilihan terbaik.

Ketahanan aktual akan dipengaruhi oleh:

jenis material, ketebalan, metode fabrikasi, sistem coating atau finishing, kualitas pemasangan, dan kondisi lingkungan tempat produk digunakan.

Karena itu, pada proses pengadaan sebaiknya material dan finishing ditentukan setelah kondisi lokasi diketahui.

Desain Plang Perlu Menyatu dengan Identitas Destinasi

Fungsi navigasi tetap menjadi prioritas, tetapi plang juga dapat menjadi bagian dari identitas visual kawasan.

Destinasi alam, taman rekreasi, kawasan heritage, desa wisata, museum terbuka dan kawasan urban dapat membutuhkan pendekatan visual yang berbeda.

Elemen desain yang dapat disesuaikan antara lain:

  • bentuk papan;
  • warna;
  • tipografi;
  • motif lokal;
  • ikon;
  • bentuk tiang;
  • ornamen;
  • finishing.

Namun identitas visual tidak boleh mengurangi keterbacaan.

Font yang sangat dekoratif, kontras rendah atau ornamen berlebihan dapat terlihat menarik secara visual tetapi menyulitkan fungsi navigasi.

Prinsipnya: estetika mendukung fungsi, bukan menggantikan fungsi.

Pertimbangkan Konsistensi Antarplang

Satu plang yang bagus belum tentu menghasilkan sistem navigasi yang bagus.

Pengunjung berpindah dari satu titik ke titik lain. Karena itu, gaya penyampaian informasi sebaiknya konsisten.

Misalnya:

  • penggunaan warna untuk zona tertentu;
  • posisi panah;
  • bentuk ikon;
  • istilah nama fasilitas;
  • penggunaan bahasa;
  • gaya tipografi;
  • urutan informasi.

Jika satu fasilitas disebut “Pusat Informasi” pada papan pertama, tetapi berubah menjadi “Information Center” pada papan berikutnya tanpa pola yang jelas, pengunjung dapat mengira keduanya merupakan lokasi berbeda.

Konsistensi membantu membangun pola yang lebih mudah dipelajari selama pengunjung bergerak di kawasan.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Merencanakan Plang Arah Wisata

Memasang plang setelah titik keputusan

Pengunjung seharusnya menerima informasi sebelum harus memilih arah.

Terlalu banyak teks

Plang arah bukan media untuk menjelaskan sejarah atau informasi panjang. Informasi edukatif sebaiknya ditempatkan pada media interpretasi terpisah.

Terlalu banyak tujuan dalam satu papan

Pisahkan informasi berdasarkan titik perjalanan dan prioritas tujuan.

Menentukan ukuran tanpa melihat lokasi

Dimensi yang bekerja pada pedestrian belum tentu sesuai untuk jalur kendaraan atau area terbuka.

Mengutamakan estetika dibanding keterbacaan

Desain yang menarik tidak memberikan nilai jika informasi sulit dibaca.

Memilih material tanpa mempertimbangkan lingkungan

Kebutuhan pada area kota, pegunungan, pantai atau kawasan dengan kelembapan tinggi dapat berbeda.

Tidak memiliki sistem yang konsisten

Plang yang dibuat secara terpisah tanpa pedoman desain sering menghasilkan bentuk, ikon dan istilah yang berbeda-beda di dalam satu kawasan.

Checklist Sebelum Memesan Plang Arah Wisata

Sebelum meminta penawaran dari produsen, pengelola dapat menyiapkan beberapa informasi berikut:

  • lokasi proyek;
  • jenis kawasan atau destinasi;
  • jumlah titik pemasangan;
  • daftar tujuan yang perlu ditampilkan;
  • foto kondisi lokasi;
  • denah atau site plan jika tersedia;
  • pengguna utama: pedestrian, kendaraan atau keduanya;
  • jumlah papan;
  • kebutuhan material;
  • preferensi finishing;
  • konsep desain atau identitas kawasan;
  • kebutuhan ikon atau bahasa tambahan;
  • metode pemasangan yang direncanakan;
  • kebutuhan drawing atau desain teknis.

Semakin lengkap data awal, semakin mudah kebutuhan produk diterjemahkan menjadi spesifikasi yang dapat dibahas bersama produsen.

Untuk proyek yang membutuhkan beberapa jenis papan, sebaiknya kirimkan site plan dan daftar titik signage, bukan hanya contoh desain satu papan.

Dengan begitu, pembahasan dapat dimulai dari kebutuhan sistem secara keseluruhan.

Kapan Plang Custom Dibutuhkan?

Produk custom dapat dipertimbangkan ketika kawasan memiliki kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi oleh desain standar, misalnya:

  • banyak destinasi pada satu kawasan;
  • identitas visual tertentu;
  • struktur tiang khusus;
  • kebutuhan beberapa papan pada satu tiang;
  • lingkungan pemasangan tertentu;
  • kombinasi pedestrian dan kendaraan;
  • kebutuhan integrasi dengan street furniture lainnya.

Dalam proyek B2B, B2G maupun pengembangan kawasan, desain custom juga memungkinkan spesifikasi disesuaikan dengan gambar perencanaan atau kebutuhan proyek.

Sebelum produksi, detail dimensi, material, finishing, konstruksi dan pemasangan sebaiknya disepakati berdasarkan kebutuhan aktual.

Merencanakan Plang Arah Wisata sebagai Sistem Navigasi

Plang arah yang efektif bukan hasil dari satu papan yang dibuat semenarik mungkin.

Kualitas sistem navigasi ditentukan oleh bagaimana seluruh papan bekerja bersama untuk membawa pengunjung dari titik masuk → titik keputusan → titik tujuan.

Karena itu, perencanaan sebaiknya dimulai dari alur pengunjung, kemudian diterjemahkan menjadi lokasi papan, hierarki informasi, kebutuhan visual, struktur dan material.

Jika Anda sedang merencanakan plang arah untuk kawasan wisata, taman, ruang publik atau pengembangan kawasan, siapkan lokasi proyek, jumlah titik, daftar tujuan, foto lapangan, serta drawing atau site plan jika tersedia.

Informasi tersebut dapat digunakan sebagai dasar pembahasan kebutuhan tiang rambu dan papan penunjuk bersama tim Futago Karya sebelum menentukan spesifikasi dan penawaran.

Artikel Lainnya

Scroll to Top